Prompgustus: Why did you start your blog?

I just saw a prompt theme from ikatan kata and that is: why did you start writing in your blog? this pique my interest as I may or maynot never describing or thoughtfully explain why I start my bloog in the first place

so, It started at my first year at Brawijaya. which I had a lot of free times, aside from late-night shitty senior meeting that drain my (and us) energy. as for me, I love writing. had been since I was a kid. my ma said that I once handsigning a roll of tissue (of all things). a full role of tissue! it was around my toddler year I think. and when I’m done, I sighed loudly and saying ‘phew. I’m tired’ to ma.

in my elementary, I had a bunch of diaries. and constantly writing on it. I too, made some short stories, which never continued for now. I think my fantasy thought as a kid are better than I am now. come my high school time, I always had some worn-out book notes. a notes that papers are made from recycle papers. and it just feel special to write anything there, unlike those white paper notes. I wrote at times I got bored at lectures and in the third years of my hs I had 3 or 4 books of that notes.

so, when Uni came and I finally got my gadget (middle school and high school at a dorm school) I search some in google, and apparently I found out that wordpress are easy to made. and here I am~ with this 3 years old blog. I’m not as creative as I was. with this stay at home thing where I could not think clearly. going out are always made me creative and now I’m not. tho I mayhaps start being serious at my academic writing.

That’s how I start my blog. how’s yours?

2 years has gone

and also for 70 followers here since I had long waited when the 6 turns to be 7. was what I had now enough? sadly no. what i had to start doing is, turning this blog to be my portofolio. a site that could bring me the position of content writer. or maybe a blog that could show my serious interest in the energy-engineering side.

what a waste of 2 years. but at the same time. I’m glad I found my purpose now. and not later

it ONLY need 2 more, yet….

I lost my motivation to write.  maybe because since 2 or 3 weeks ago, my family has come to bandung and they stayed together in grandma house. living with my full family is reaaaally tiring. in a good and bad ways, both. I like the companies. I love how they always make me stressed out ecery 5 seconds. the shouting, the fights, or even the sweet things like they buy me ice cream. it feels lively.

but I hate how it drain my energy. entirely. so that I, who normally could stay awake enough until 2 am will passed out eventually at 9 pm, or 11 pm max. ouch I’m getting afraid of my future assignment because they’d not solved themselves out. (I just had an inner fight about, am I in the right way, at this engineering paths? is this my quarter life crisis?)

and so. that’s partially the reason why I had not write anything since…. how long it is again. it said my last post on 6 may. (couldn’t be worst than leaving my diary notes from decemebr to february. ha) half part of my reason is also, the fame. I felt like past months, I write for views and not purely for rising up my skill. it felt forced. and I really hate when I’m doing something for just views, followers, or like. no no I will not drowning in that desparate sea.

so that’s, folks. what I’ve been feeling for the last two weeks that made a halt on my writing in the wordpress. I’m pretty sure some of you who are also writer may or may not have gone through a same experience.

well, cheer up and go write something now 🙂

millenials did not kill (almost) everything

Jual Buku Millennials Kill Everything, Yuswohady - Kota Tangerang ...
sampul depan buku millenial kill everythinhg

sore tadi aku menyempatkan diri membaca buku yang ada di rumah. ada buku ini, yang pernah bapak suruh aku baca. judulnya millenial kill everything, tapi bukan dalam arti harfiah membunuh. kill disini lebih bermakna menghiraukan sehingga dia menghilang. sebenarnya buku ini lebih ditujukan pada investor, atau pebisnis. hal hal yang dianggap akan hilang oleh penulis diberikan warning untuk segera menjauhi bidang tersebut.

disamping itu, beberapa hal yang disebutkan penulis terutama tentang how millens interact with life membuatku berkata ‘ah, iya juga. sifatku hampir mirip begini’ walaupun sebagian lain nya tidak sepenuhnya benar. terutama, dengan wabah yang mungkin tidak disangka sangka oleh penulis.

pertama, soal brand. ada di pembahasan soal booking hotel. saat ini, jika seseorang memiliki uang sebesar 500 ribu dan ingin menginap di hotel, ia akan : awalnya, mencari hotel dengan budget 300 sampai 500 ribu di aplikasi hotel seperti ovo airbnb atau traveloka. bukan nya serabutan mendatangi satu persatu hotel.

kedua, dia akan mencari hotel dengan rating paling tinggi. dan ketiga, membaca review karena hotel A bisa saja ber rating 9 tetapi banyak komplain ‘kolam renang kotor’ atau ‘kamar sempit’. maka dia akan lebih memilih hotel B yang walau lebih mahal tapi review nya menjanjikan.

ini juga berlaku saat belanja online kan? artinya, mayoritas mereka tidak melihat brand dari sebuah barang. memang, bisa jadi mereka masih loyal pada sebuah merek brand. tapi tiga hal di atas masih lebih sering terjadi. bahkan, aku rasa ini persis seperti yang aku lakukan saat mencari barang di tokped atau shopee kan?

hal kedua yang ingin kubahas, adalah soal hilang nya dapur dari generasi milenial seperti yang dikatakan penulis. ini dikaitkan dengan masif nya gofud atau grebfud. kenyataan nya persis yang dinyatakan penulis, bahwa anak muda lebih sering order makanan daripada memasak sendiri. talk about time effectivity and efortless, bruh. teman kosan ku bisa gofud untuk makan 3 kali sehari, dibanding jalan keluar beli nasi atau masak di dapur.

hanya saja, yang sekarang ada tidak begitu. outbreak memaksa milenial, dan hampir semua orang di rumah. 24 jam kekosongan membuat hampir semua orang menjadi chef wanna be. millenial kembali ke dapur! menurutku ini akan menghilangkan rasa awkward anak muda dari dapur atau malah membuat mereka demen kembali bereksperimen di dapur.

KENANGAN KKM 123 TEKNIK UB

Sedikit gambaran yang sebenar benarnya gambar dari kemah ospek teknik ub. Kami menyebutnya, kemah kerja mahasiswa

Pemandangan paling cakep sebelum masuk daerah kemah
Waktu hiking ke area kemah. Orang bilang 2 kilo lebih, tapi aku udah sering hiking sama keluarga. Sayang nya, ada yang kena asma pas naik ini dan langsung dipulangin
Masak masak di tenda depan. Serasa masterchef tapi lebih tertekan
Sore pertama, balik masterchef ada pengecekan tas. Kaget bro. Ternyata mau nyita skincare. Aku mah mana punya
Ada eval malem. Waktu itu berkabut, macam pilem2. Mbak mas yang jaga eval banyak banget. Untung aku di dekat jalan tengah, kuping ga langsung diteriakin mereka
Bagian dalam tenda, waktu mai tidur. Aku pakai koran di atas rumput karena ga mau tidur mepet mepetan.
Padahal waktu sd kalo kemah harus megangin jilbab orang pas tidur. Yang aku pikirkan, aku bisa tiba tiba hilang ke dimensi lain
Belakang kemah bisa liat begini. Ngga sekeren yang di spot pertama sebelum masuk kemah.
Pulang! Kami pakai tronton, dan aku duduk di atas tumpukan tas. Gambar ini di tronton bikin mual kayak baca buku di mobil.
Padahal kukira karena bak terbuka jadi banyak udara. Ternyata karena goncangan nya

Dik adik yang baru mau kkm. Good luck. Jangan lupa mandi pagi pakai air embun ya